Dinkes DKI

Dinkes DKI Imbau Warga Waspada Campak dan Hindari Cium Bayi Saat Lebaran

Dinkes DKI Imbau Warga Waspada Campak dan Hindari Cium Bayi Saat Lebaran
Dinkes DKI Imbau Warga Waspada Campak dan Hindari Cium Bayi Saat Lebaran

JAKARTA - Momentum Lebaran identik dengan tradisi berkumpul bersama keluarga besar, saling bersalaman, hingga mencurahkan kasih sayang kepada anggota keluarga yang lebih kecil. 

Dalam suasana penuh kehangatan tersebut, bayi dan balita kerap menjadi pusat perhatian, bahkan sering digendong atau dicium oleh kerabat yang datang berkunjung.

Namun di balik kebiasaan tersebut, terdapat potensi risiko kesehatan yang perlu diwaspadai. Bayi dan balita memiliki daya tahan tubuh yang masih berkembang sehingga lebih mudah terpapar berbagai penyakit menular, termasuk campak. Karena itu, kewaspadaan terhadap penularan penyakit menjadi penting terutama saat mobilitas masyarakat meningkat selama libur Lebaran.

Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan anak-anak di tengah aktivitas silaturahmi. Imbauan ini disampaikan sebagai langkah pencegahan agar bayi dan balita tetap terlindungi dari kemungkinan penularan penyakit yang dapat terjadi saat interaksi sosial meningkat.

Dinkes DKI Ingatkan Risiko Penularan Campak pada Anak

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan campak menjelang masa libur Lebaran. Meski hingga kini belum ditemukan kasus positif di Jakarta, bayi dan balita disebut menjadi kelompok paling rentan tertular penyakit tersebut.

“Kelompok paling rentan adalah anak-anak. Jadi bayi dan anak-anak yang harus kita jaga benar. Salah satu pesannya adalah jangan suka megang, mencium anak-anak itu, terutama yang masih bayi dan balita, karena daya tahan tubuhnya masih sangat rentan,” kata Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati.

Menurut Ani, kebiasaan mencium atau terlalu sering menyentuh bayi saat berkumpul dengan banyak orang berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit. Hal ini karena bayi dan balita belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sekuat orang dewasa.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap berhati-hati dalam berinteraksi dengan bayi, terutama ketika sedang berada di keramaian atau dalam kegiatan keluarga besar.

Belum Ada Kasus Campak di Jakarta

Ani menyampaikan hingga saat ini belum ada kasus campak yang terkonfirmasi pada warga yang berdomisili Jakarta. Namun, kewaspadaan tetap diperketat karena sejumlah daerah di sekitar ibu kota mulai melaporkan adanya kasus campak.

“Campak saat ini di Jakarta belum ditemukan ada yang positif. Jadi kami melakukan pemantauan dengan lakukan surveilans. Ada beberapa lokasi faskes yang menjadi lokasi surveilans,” ujar Ani.

Meski kondisi di Jakarta masih terpantau aman, pemerintah daerah tetap mengambil langkah antisipatif agar potensi penularan dapat dicegah sejak dini.

Pemantauan melalui fasilitas kesehatan menjadi salah satu cara untuk memastikan bahwa jika ada gejala yang mengarah pada campak, penanganan dapat segera dilakukan.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat di tengah mobilitas yang meningkat selama masa libur panjang.

Pemantauan Dilakukan Melalui Sistem Surveilans

Dia menjelaskan, pemantauan dilakukan melalui sistem surveilans di berbagai fasilitas kesehatan (faskes). Menurutnya, jika ditemukan pasien dengan gejala yang mengarah pada campak, petugas kesehatan akan segera melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis.

“Tapi sejauh ini, untuk domisili di Jakarta belum ada. Tetapi daerah di sekitar Jakarta memang sudah mulai ada,” ucapnya.

Melalui sistem surveilans tersebut, tenaga kesehatan dapat memantau perkembangan penyakit secara lebih sistematis. Data yang diperoleh dari fasilitas kesehatan juga membantu pemerintah dalam mengambil langkah pencegahan yang tepat.

Dengan adanya sistem pemantauan tersebut, kemungkinan munculnya kasus campak dapat segera diketahui dan ditangani sebelum menyebar lebih luas.

Dampak Pandemi Covid-19 pada Cakupan Vaksinasi

Ani menilai potensi munculnya kembali kasus campak tidak terlepas dari dampak pandemi Covid-19 yang kala itu sempat mengganggu cakupan vaksinasi di berbagai daerah.

“Mungkin salah satu penyebabnya karena memang ketika ini masih bawaan ketika Covid, vaksinasi campak memang di banyak daerah belum sampai 100 persen, sehingga masih ada beberapa yang belum tervaksinasi,” kata Ani.

Selama masa pandemi, berbagai layanan kesehatan mengalami pembatasan sehingga sejumlah program imunisasi tidak berjalan secara optimal. Hal ini berdampak pada penurunan cakupan vaksinasi di beberapa wilayah.

Akibatnya, masih terdapat anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak secara lengkap, sehingga mereka lebih rentan terhadap penyakit tersebut.

Imbauan Masyarakat untuk Lindungi Anak

Di tengah situasi tersebut, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan anak-anak dengan memperhatikan kebersihan serta menghindari kontak fisik yang berlebihan dengan bayi dan balita.

Kewaspadaan ini menjadi penting terutama saat Lebaran, ketika banyak keluarga berkumpul dan interaksi sosial meningkat.

Dengan menjaga kebersihan, membatasi kontak langsung dengan bayi, serta memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, risiko penularan penyakit dapat diminimalkan.

Langkah-langkah pencegahan sederhana tersebut diharapkan dapat membantu melindungi bayi dan balita dari potensi penularan campak maupun penyakit lainnya selama masa libur Lebaran.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index