World Women Day

World Women Day 2026 Soroti Pencegahan Demensia pada Perempuan Lansia Global

World Women Day 2026 Soroti Pencegahan Demensia pada Perempuan Lansia Global
World Women Day 2026 Soroti Pencegahan Demensia pada Perempuan Lansia Global

JAKARTA - Peringatan Hari Perempuan Internasional setiap tahun tidak hanya menjadi ajang merayakan peran perempuan dalam berbagai bidang, tetapi juga momentum penting untuk menyoroti isu kesehatan yang secara khusus memengaruhi perempuan. 

Salah satu isu yang kini semakin mendapat perhatian adalah meningkatnya risiko demensia pada perempuan lanjut usia.

Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah penderita demensia di dunia terus meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan global karena membutuhkan penanganan jangka panjang serta dukungan sosial yang luas bagi penderita dan keluarganya.

Para pakar kesehatan menilai bahwa perempuan memiliki kerentanan yang lebih tinggi terhadap demensia dibandingkan laki-laki. Oleh karena itu, berbagai upaya pencegahan serta peningkatan kesadaran masyarakat dinilai sangat penting untuk mengurangi dampak penyakit tersebut, terutama bagi perempuan yang memasuki usia lanjut.

Momentum World Women Day 2026 pun dimanfaatkan untuk kembali mengingatkan masyarakat tentang pentingnya perhatian terhadap kesehatan perempuan lansia, termasuk langkah-langkah pencegahan demensia sejak dini.

World Women Day Angkat Isu Demensia pada Perempuan

Kementerian Kesehatan mengatakan, World Women Day 2026 bertema Give to Gain menjadi momen strategis untuk menyoroti kesehatan lansia perempuan dan urgensi pencegahan demensia, mengingat proporsi kasus demensia lebih besar pada perempuan akibat berbagai kombinasi faktor.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan di Jakarta, Minggu, bahwa secara global, demensia sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat besar. Puluhan juta orang hidup dengan kondisi ini dan jumlahnya diperkirakan akan meningkat tajam seiring penuaan populasi.

"Di banyak studi dan ringkasan bukti, perempuan menanggung proporsi kasus demensia yang lebih besar dibanding laki-laki; untuk Alzheimer, sekitar dua pertiga dari kasus dilaporkan terjadi pada perempuan. Perbedaan ini tidak hanya karena perempuan hidup lebih lama, tetapi juga karena kombinasi faktor biologis, sosial, dan ekonomi yang menurunkan cadangan kognitif generasi perempuan lansia," kata Imran.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap kesehatan perempuan, khususnya pada masa lanjut usia.

Lonjakan Kasus Demensia Diperkirakan Terus Meningkat

Dia menyebutkan, proyeksi internasional menunjukkan kenaikan signifikan dalam beberapa dekade mendatang, sehingga beban sosial, ekonomi, dan layanan kesehatan akan terus bertambah jika langkah pencegahan dan perawatan tidak diperkuat.

Selain itu, katanya, kenaikan jumlah orang dengan demensia berlangsung lebih cepat di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk banyak negara di Asia Tenggara. Faktor pendorongnya meliputi peningkatan harapan hidup, prevalensi faktor risiko kardiometabolik yang meningkat, dan keterbatasan akses pendidikan serta layanan kesehatan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan demensia tidak hanya berkaitan dengan kesehatan individu, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor sosial dan ekonomi masyarakat.

"Di wilayah ini, perempuan lansia sering menghadapi hambatan ganda—akses layanan yang lebih rendah dan beban peran keluarga—sehingga intervensi pencegahan yang sensitif gender sangat penting," katanya.

Faktor Risiko Demensia yang Dapat Dicegah

Laporan Dementia prevention, intervention, and care: 2020 (Lancet Commission) merangkum bukti kuat bahwa ada 12 faktor risiko demensia bersifat bisa dimodifikasi sepanjang hidup. Laporan menyimpulkan bahwa intervensi pada faktor-faktor ini dapat mencegah atau menunda proporsi besar kasus demensia.

Di Indonesia, katanya, studi populasi menunjukkan variasi prevalensi demensia pada lansia tergantung metode dan lokasi, dengan angka yang melaporkan rentang yang cukup lebar pada populasi lansia.

Pola nasional konsisten dengan temuan global, di mana lebih banyak perempuan yang terdampak. Faktor lokal seperti perbedaan tingkat pendidikan antar generasi, akses layanan kesehatan primer, katanya, dan beban sosial perempuan memperkuat kebutuhan program pencegahan yang menargetkan perempuan, termasuk skrining tekanan darah, pemeriksaan pendengaran, dan program aktivitas fisik komunitas.

Menurut para ahli, intervensi yang dilakukan sejak usia lebih muda dapat membantu menjaga kesehatan kognitif seseorang hingga usia lanjut.

Langkah Pencegahan yang Dapat Dilakukan Masyarakat

Dia menambahkan, dari laporan Lancet Commission, sejumlah langkah pencegahan yang paling relevan dan dapat diimplementasikan di tingkat individu dan komunitas antara lain kontrol tekanan darah sejak usia 30 tahunan, aktivitas fisik teratur, serta stimulasi kognitif dan pendidikan seumur hidup misalnya seperti dengan kursus.

Langkah-langkah tersebut dinilai relatif mudah diterapkan oleh masyarakat apabila didukung dengan kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya menjaga kesehatan otak sejak dini.

Selain itu, kegiatan yang melibatkan stimulasi mental seperti membaca, belajar keterampilan baru, atau mengikuti pelatihan juga dapat membantu menjaga fungsi kognitif seseorang.

Upaya pencegahan ini tidak hanya membutuhkan kesadaran individu, tetapi juga dukungan dari keluarga serta lingkungan masyarakat.

Kolaborasi Berbagai Pihak untuk Mengurangi Beban Demensia

Menurutnya, dengan memberi investasi nyata pada sumber daya, perhatian, dan kebijakan, mulai dari pencegahan hingga perawatan pascadiagnosis yang holistik, setiap pemangku kepentingan punya peran saling melengkapi dalam mengurangi beban demensia pada perempuan, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.

Peran pemerintah sangat penting dalam menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses serta program pencegahan yang berkelanjutan. Di sisi lain, keluarga juga memiliki peran penting dalam memberikan dukungan emosional dan sosial bagi perempuan lansia.

"Dengan kata lain, ketika masyarakat, kebijakan, dan keluarga memberi perhatian dan sumber daya yang tepat, kita semua mendapat manfaat berupa penurunan beban demensia dan peningkatan kualitas hidup perempuan serta keluarganya," katanya.

Melalui momentum World Women Day 2026, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan perempuan lansia semakin meningkat sehingga upaya pencegahan demensia dapat dilakukan lebih dini dan lebih luas di berbagai lapisan masyarakat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index