Wamen ESDM: Uji Jalan Biodiesel B50 Sudah 40 Ribu Km, Implementasi Dipercepat

Kamis, 12 Maret 2026 | 09:55:22 WIB
Wamen ESDM: Uji Jalan Biodiesel B50 Sudah 40 Ribu Km, Implementasi Dipercepat

JAKARTA - Perjalanan menuju penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan terus menjadi fokus pemerintah Indonesia. 

Salah satu langkah penting yang tengah ditempuh adalah pengembangan bahan bakar biodiesel dengan tingkat campuran lebih tinggi. Upaya ini tidak hanya ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah secara bertahap meningkatkan porsi bahan bakar nabati dalam campuran solar. Program biodiesel yang dimulai dari B20 kemudian meningkat menjadi B30 dan B35, kini tengah menuju tahap yang lebih tinggi, yakni B50. Program ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memanfaatkan potensi sumber daya alam dalam negeri, khususnya minyak kelapa sawit, sebagai sumber energi alternatif.

Seiring dengan rencana implementasi tersebut, pemerintah saat ini tengah melakukan serangkaian pengujian guna memastikan bahwa penggunaan biodiesel B50 aman dan efisien bagi kendaraan maupun sektor transportasi secara luas.

Progres Uji Jalan Biodiesel B50 Mendekati Target

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan uji jalan bahan bakar biodiesel B50 telah menempuh sekitar 40 ribu kilometer (km) dari target 50 ribu km dan berpotensi selesai pada Maret 2026.

Waktu tersebut lebih cepat dibandingkan target perkiraan sebelumnya yang diperkirakan rampung pada pertengahan 2026.

“Yang kemarin itu uji jalan sudah 40 ribu-an km. Mudah-mudahan dalam Maret ini kita harapkan sudah bisa diselesaikan,” kata Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu.

Percepatan tersebut menunjukkan bahwa proses pengujian berjalan cukup lancar. Dengan capaian jarak uji yang sudah mendekati target, pemerintah optimistis evaluasi teknis dapat segera diselesaikan dalam waktu dekat.

Pengujian Dilakukan pada Berbagai Jenis Kendaraan

Ia menjelaskan uji jalan tersebut telah dilakukan pada sejumlah kendaraan seperti Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero, serta kendaraan angkutan bus.

Penggunaan berbagai jenis kendaraan dalam pengujian bertujuan untuk memastikan biodiesel B50 dapat digunakan pada berbagai tipe mesin yang berbeda. Hal ini penting agar implementasi kebijakan nantinya dapat diterapkan secara luas di sektor transportasi.

Menurut dia, hasil evaluasi sementara menunjukkan penggunaan biodiesel B50 tidak menimbulkan dampak terhadap kendaraan yang diuji dan dari sisi efisiensi juga cukup baik.

“Untuk kendaraan yang sudah berjalan itu kita evaluasi, tidak ada dampak terhadap kendaraan yang bersangkutan. Dari sisi efisiensi juga cukup bagus,” ujarnya.

Temuan tersebut menjadi indikator awal bahwa bahan bakar biodiesel dengan campuran lebih tinggi masih dapat digunakan tanpa menimbulkan gangguan pada performa kendaraan.

Rencana Uji Coba pada Moda Transportasi Lain

Yuliot mengatakan pemerintah juga akan melanjutkan uji coba penggunaan biodiesel B50 pada moda transportasi lain, termasuk kereta api, yang direncanakan dilakukan setelah Lebaran.

Langkah ini dilakukan untuk memperluas cakupan pengujian sehingga pemerintah memperoleh gambaran lebih menyeluruh mengenai efektivitas penggunaan biodiesel pada berbagai sektor transportasi.

Percepatan uji jalan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan implementasi biodiesel B50 pada sektor transportasi yang ditargetkan berjalan pada semester dua 2026.

Penggunaan biodiesel B50 juga dinilai Yuliot lebih ekonomis ketika harga minyak dunia relatif tinggi karena dapat menekan beban subsidi maupun kompensasi energi.

“Dengan harga minyak cukup tinggi sekarang, penggunaan biodiesel B50 justru menjadi lebih ekonomis. Jadi subsidi atau kompensasi yang diberikan menjadi lebih rendah,” ujarnya.

Dengan demikian, implementasi biodiesel tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi negara.

Lonjakan Harga Minyak Dorong Percepatan Energi Alternatif

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan mempercepat kebijakan mandatori campuran bioetanol ke bahan bakar minyak (BBM) sebagai respons lonjakan harga minyak dunia yang sempat menembus 100 dolar AS per barel.

Harga minyak mentah dunia sempat melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir. Diberitakan Sputnik (9/3), harga minyak mentah jenis Brent sempat mencapai 118 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 17 Juni 2022. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga minyak pada Januari 2026 ketika Brent (ICE) berada di kisaran 64 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak dunia tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong pemerintah untuk mempercepat diversifikasi energi.

Bahlil mengatakan pemerintah mendorong penerapan campuran etanol hingga 20 persen atau E20 pada bensin yang semula direncanakan diterapkan pada 2028 untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar.

Selain itu, pemerintah juga merencanakan percepatan implementasi biodiesel B50, yakni campuran 50 persen solar dengan 50 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga minyak global.

Terkini