Wamenkomdigi Ingatkan Ancaman Siber Era AI Kini Mengintai Kehidupan Digital Masyarakat

Senin, 02 Februari 2026 | 08:43:33 WIB
Wamenkomdigi Ingatkan Ancaman Siber Era AI Kini Mengintai Kehidupan Digital Masyarakat

JAKARTA - Perkembangan artificial intelligence (AI) yang begitu pesat membawa kemudahan luar biasa dalam kehidupan digital masyarakat. 

Namun di balik kemajuan tersebut, risiko ancaman siber juga tumbuh semakin kompleks dan dekat dengan aktivitas sehari-hari warga. Pemerintah pun mengingatkan bahwa era AI telah mengubah wajah kejahatan siber, dari yang semula menargetkan sistem besar, kini menyentuh langsung ranah personal masyarakat.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa masyarakat tidak lagi bisa memandang ancaman siber sebagai persoalan teknis semata. Menurutnya, serangan digital kini dapat berdampak langsung pada rekening pribadi, identitas, hingga perangkat yang digunakan sehari-hari, tanpa disadari oleh pemiliknya.

Ancaman Siber Tak Lagi Menyasar Sistem Besar

Wamen Nezar menjelaskan bahwa karakter ancaman siber telah berubah drastis di era AI. Jika sebelumnya serangan umumnya ditujukan pada institusi besar atau infrastruktur strategis, kini masyarakat umum justru menjadi sasaran empuk.

Ia mengungkapkan bahwa teknologi AI memungkinkan pelaku kejahatan siber melakukan serangan secara otomatis dan masif. Dengan kecepatan tinggi, sistem AI dapat memindai jutaan perangkat atau sistem dalam waktu singkat, lalu memilih target yang dianggap memiliki nilai.

“Sekarang serangan tidak selalu butuh klik. Ada zero click attack. Pesan masuk saja sudah cukup membuat malware bekerja,” kata Wamen Nezar dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu.

Kondisi ini membuat banyak warga menjadi korban tanpa sempat menyadari bahwa perangkat mereka telah disusupi. Serangan terjadi secara senyap dan cepat, sehingga sering kali baru diketahui setelah kerugian muncul.

AI Mempercepat dan Memperluas Pola Serangan

Lebih lanjut, Wamen Nezar menyoroti bagaimana AI mempercepat skala dan pola serangan siber. Dengan dukungan otomatisasi, pelaku kejahatan tidak lagi membutuhkan waktu lama atau sumber daya besar untuk melancarkan aksinya.

Ia mengutip temuan Boston Consulting Group (BCG) pada Desember 2025 yang menunjukkan bahwa perkembangan serangan siber berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan pertahanan yang dimiliki saat ini.

“Data Boston Consulting Group (BCG) Desember 2025 menunjukkan serangan berkembang lebih cepat daripada pertahanan. Ini sebabnya warga sering menjadi korban tanpa sadar,” ujarnya.

Menurutnya, ketimpangan antara kecepatan serangan dan sistem pertahanan inilah yang membuat ancaman siber di era AI menjadi semakin berbahaya. Tanpa kesiapan yang memadai, masyarakat berisiko terus berada dalam posisi rentan.

Penipuan Digital Menyentuh Sisi Emosional

Ancaman siber, kata Wamen Nezar, tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyasar sisi psikologis dan emosional masyarakat. Pemanfaatan AI dalam modus penipuan memungkinkan pelaku memalsukan wajah dan suara seseorang secara sangat meyakinkan.

Dengan teknologi tersebut, penipuan menjadi lebih personal dan sulit dikenali. Korban kerap terjebak karena merasa berinteraksi dengan orang yang dikenal atau dipercaya.

“Sekarang wajah dan suara kita bisa ditiru. Penipuan jadi sangat personal. Banyak korban jatuh karena percaya pada orang yang mereka kenal,” kata Wamen Nezar.

Ia menilai, kondisi ini menjadi tantangan besar dalam perlindungan masyarakat di ruang digital. Ketika emosi dan kepercayaan dimanfaatkan, kewaspadaan sering kali melemah, meskipun secara teknis sistem keamanan telah dipasang.

Password dan Sistem Konvensional Kian Rapuh

Dalam paparannya, Wamen Nezar juga menyoroti lemahnya sistem perlindungan konvensional di tengah perkembangan AI dan riset komputasi kuantum. Menurut dia, kata sandi yang selama ini menjadi benteng utama keamanan digital perlahan kehilangan efektivitasnya.

“Password yang kita buat hari ini pada akhirnya bisa menjadi tidak bermakna. Dunia sedang bergerak ke era pascakuantum,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Wamen Nezar saat membuka Workshop Cybersecurity di BPSDMP Komdigi Yogyakarta, Bantul, DI Yogyakarta, Sabtu (31/01/2026). Ia menekankan bahwa selama perangkat terhubung dengan jaringan lain, tidak ada ruang yang benar-benar aman di dunia digital.

Ancaman bisa datang dari berbagai arah, mulai dari ponsel pintar, aplikasi, hingga perangkat sederhana yang digunakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

“Selama kita terkoneksi, tidak ada kata aman di ruang digital,” tegasnya.

Dorongan Security by Design dan Peran Negara

Untuk merespons tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mendorong penerapan pendekatan security by design. Pendekatan ini menempatkan keamanan sebagai bagian integral sejak awal pengembangan sistem, bukan sebagai tambahan setelah terjadi kebocoran atau serangan.

Wamen Nezar menegaskan bahwa keamanan siber tidak bisa hanya bergantung pada teknologi. Faktor kebiasaan, kesadaran pengguna, serta kepemimpinan yang kuat juga memiliki peran penting dalam membangun ketahanan digital nasional.

“Keamanan siber bukan hanya soal teknologi. Ini soal kebiasaan, kesadaran, dan kepemimpinan,” kata Wamen Nezar.

Melalui penguatan talenta digital dan pembangunan arsitektur keamanan yang lebih tangguh, Kemkomdigi menegaskan komitmen negara dalam melindungi warga di ruang digital. Upaya ini menjadi semakin penting seiring dengan pesatnya perkembangan artificial intelligence yang terus membentuk lanskap baru kehidupan digital masyarakat.

Terkini