Hasnur Internasional Waspadai Dampak Tidak Langsung Pelemahan Rupiah Tahun 2026

Kamis, 22 Januari 2026 | 15:43:11 WIB
Hasnur Internasional Waspadai Dampak Tidak Langsung Pelemahan Rupiah Tahun 2026

JAKARTA - Di tengah dinamika ekonomi global yang terus bergerak, fluktuasi nilai tukar menjadi salah satu faktor eksternal yang tak bisa diabaikan oleh pelaku industri pelayaran. 

PT Hasnur Internasional Shipping Tbk. (HAIS) menempatkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu variabel makro yang terus dicermati. Meski demikian, perseroan menegaskan bahwa dampak langsung dari pergerakan kurs tersebut terhadap kinerja keuangan perusahaan masih relatif terbatas dan berada dalam kendali.

Direktur Keuangan HIS Rickie menyampaikan bahwa hingga saat ini pelemahan rupiah belum memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja perseroan dalam jangka pendek. Hal ini tidak terlepas dari struktur pendapatan dan biaya operasional perusahaan yang mayoritas menggunakan mata uang rupiah, sehingga eksposur langsung terhadap risiko nilai tukar dapat diminimalkan.

Struktur Pendapatan dan Biaya Didominasi Rupiah

Rickie menjelaskan bahwa seluruh pendapatan perseroan dicatat dalam mata uang rupiah. Kondisi ini sejalan dengan struktur biaya operasional utama perusahaan yang juga berbasis rupiah, seperti biaya docking kapal dan perawatan armada. Dengan komposisi tersebut, risiko fluktuasi nilai tukar terhadap laporan keuangan perusahaan dinilai masih berada dalam tingkat yang terkendali.

Pendekatan ini menjadi salah satu faktor yang membuat HIS relatif lebih tahan terhadap gejolak nilai tukar dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki eksposur valuta asing lebih besar. Dalam jangka pendek, stabilitas struktur pendapatan dan biaya tersebut memberikan ruang bagi perseroan untuk tetap menjaga kinerja operasional tanpa tekanan signifikan dari sisi kurs.

Namun demikian, perusahaan tetap memandang pergerakan nilai tukar sebagai faktor yang perlu dipantau secara berkelanjutan, terutama karena pengaruhnya tidak selalu muncul secara langsung.

Risiko Tidak Langsung dari Penguatan Dolar AS

Meski eksposur langsung terbatas, HIS tetap mewaspadai potensi dampak tidak langsung atau second-order impact dari penguatan dolar AS. Rickie menuturkan bahwa salah satu risiko yang diantisipasi berasal dari pergerakan harga komoditas global yang sensitif terhadap nilai tukar dolar.

“Meski demikian, perseroan tetap mencermati potensi dampak tidak langsung atau second-order impact dari penguatan dolar, khususnya melalui pergerakan harga komoditas global. Salah satu risiko yang diantisipasi adalah kenaikan harga bahan bakar minyak, terutama solar, yang merupakan komponen utama biaya operasional industri pelayaran,” ujarnya

Dalam industri pelayaran, bahan bakar minyak menjadi komponen biaya yang sangat signifikan. Kenaikan harga solar berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap struktur biaya operasional, meskipun dampaknya tidak serta-merta terjadi dan bergantung pada berbagai faktor pendukung lainnya.

Potensi Kenaikan Biaya Material dan Perawatan Kapal

Selain bahan bakar, Rickie juga mengungkapkan bahwa harga material dan suku cadang kapal berpotensi mengalami penyesuaian seiring dengan penguatan dolar AS. Beberapa komponen perawatan kapal, seperti pelat baja dan material tertentu, mengacu pada harga pasar global yang sensitif terhadap pergerakan nilai tukar.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada biaya perawatan kapal secara bertahap, terutama apabila penguatan dolar berlangsung dalam periode yang panjang. Meski demikian, manajemen menilai bahwa dampak tersebut tidak bersifat langsung dan sangat bergantung pada kebijakan harga domestik, kondisi pasokan, serta tingkat efisiensi internal perusahaan.

“Kami menilai dampak tersebut tidak terjadi secara langsung dan sangat bergantung pada kebijakan harga domestik, kondisi pasokan, serta efisiensi internal perusahaan,” jelas Rickie.

Dengan demikian, perusahaan melihat ruang mitigasi yang cukup luas melalui pengelolaan biaya dan perencanaan operasional yang lebih terukur.

Strategi Efisiensi untuk Menjaga Kinerja Operasional

Sebagai langkah antisipasi terhadap dinamika tersebut, HIS telah menyiapkan berbagai strategi mitigasi yang berfokus pada disiplin biaya dan peningkatan efisiensi operasional. Upaya ini dilakukan melalui optimalisasi jadwal kapal, pengendalian konsumsi bahan bakar, serta peningkatan produktivitas armada.

Selain itu, perseroan juga memperkuat perencanaan keuangan dan menjaga fleksibilitas likuiditas di tengah volatilitas kondisi makroekonomi. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan perusahaan memiliki ruang gerak yang cukup dalam menghadapi perubahan eksternal yang tidak terduga.

HIS akan terus memantau dinamika nilai tukar sebagai bagian dari faktor makro yang memengaruhi kinerja perseroan, sekaligus menyesuaikan strategi operasional secara berkala agar tetap selaras dengan kondisi pasar.

Fokus Digitalisasi dan Ketahanan Bisnis

Di sisi lain, perusahaan juga mendorong inovasi dan digitalisasi proses operasional guna meningkatkan akurasi pengambilan keputusan sekaligus menekan biaya tidak langsung. Pemantauan berkala terhadap struktur biaya, termasuk potensi eksposur mata uang asing, dilakukan agar tetap berada dalam batas yang wajar.

Digitalisasi diharapkan mampu mendukung efisiensi jangka panjang dan memperkuat ketahanan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan pendekatan tersebut, HIS berupaya memastikan bahwa setiap potensi risiko dapat diidentifikasi lebih awal dan ditangani secara terukur.

“Dengan struktur biaya yang didominasi rupiah dan fokus berkelanjutan pada efisiensi, HIS berada pada posisi yang relatif resilien dalam menghadapi dinamika nilai tukar dan pergerakan harga komoditas global,” terangnya.

Ke depan, perseroan akan terus mengedepankan kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan, sembari memanfaatkan peluang peningkatan kinerja operasional melalui efisiensi dan inovasi, agar tetap mampu menjaga stabilitas dan daya saing di industri pelayaran nasional.

Terkini