JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk mengubah paradigma menjadi lebih progresif dalam menghadapi tantangan masa depan.
Transformasi pendidikan tinggi, menurut Fauzan, bukan sekadar modernisasi infrastruktur atau teknologi, tetapi perubahan cara pandang yang menyeluruh.
“Transformasi pada hakikatnya merupakan perubahan paradigma dari konvensional menjadi fungsional. Pendidikan tinggi tradisional berfokus pada pelaksanaan Tri Dharma sebagai tujuan akhir,” kata Fauzan.
Tri Dharma sebagai Instrumen, Bukan Tujuan Akhir
Fauzan menekankan bahwa pendidikan tinggi modern harus mengintegrasikan seluruh elemen ekosistem akademik untuk menghasilkan dampak nyata bagi pembangunan sosial-ekonomi. Dengan paradigma baru ini, Tri Dharma—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—tidak lagi menjadi tujuan akhir, tetapi menjadi alat untuk menciptakan solusi atas tantangan masyarakat.
“Tri Dharma bukan lagi tujuan akhir, melainkan instrumen untuk menciptakan solusi bagi tantangan masyarakat. Itulah paradigma fungsional yang dimaksud,” ujarnya.
Perubahan Mindset sebagai Kunci Transformasi
Selain perubahan paradigma, Fauzan menekankan pentingnya perubahan mindset di kalangan civitas akademika. Transformasi perguruan tinggi tidak akan berhasil tanpa keberanian untuk meninggalkan cara lama dan mengadopsi pendekatan baru.
“Kalau kita ingin melakukan transformasi yang lebih, kita perlu mengubah mindset. Jangan berharap kita bisa ke sana. Untuk apa bicara tentang transformasi, tetapi kalau mindset kita tidak pernah bergerak, tidak berani melakukan perubahan,” tegas Fauzan.
Peran LLDikti dalam Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Henri Togar Hasiholan Tambunan, menambahkan bahwa peningkatan mutu perguruan tinggi memerlukan tata kelola profesional, layanan responsif, serta kemitraan strategis dengan pemerintah daerah, industri, dan jejaring internasional.
“Peningkatan kualitas perguruan tinggi tidak bisa dilakukan secara parsial. Semua elemen harus sinergis untuk memastikan mahasiswa dan lulusan siap menghadapi tantangan global,” ujar Henri.
Sinergi dengan Pemerintah Daerah dan Industri
LLDikti Wilayah III kini menaungi 249 perguruan tinggi di Jakarta dan telah mengambil langkah strategis untuk menghubungkan kampus dengan kebutuhan daerah. Salah satu upaya penting adalah sinergi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperluas akses pendidikan tinggi melalui program beasiswa.
“Salah satu langkah penting adalah sinergi antara LLDikti Wilayah III dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperluas akses pendidikan tinggi. Dalam pertemuan bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo, LLDikti mendorong penambahan kuota beasiswa KIP Kuliah dan KJMU agar lebih banyak mahasiswa dari perguruan tinggi swasta dapat menerima manfaat, tidak hanya terbatas pada kampus berakreditasi unggul,” ucap Henri Tambunan.
Mendorong Kampus Menjadi Agen Pembangunan Sosial-Ekonomi
Fauzan menekankan bahwa perguruan tinggi harus berperan aktif dalam pembangunan sosial-ekonomi. Dengan mengadopsi paradigma fungsional, kampus tidak hanya meluluskan mahasiswa, tetapi juga menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat dan industri.
“Perguruan tinggi harus menjadi pusat inovasi dan solusi, bukan sekadar lembaga pendidikan formal. Dengan transformasi ini, dampak Tri Dharma dapat lebih terasa di masyarakat dan ekonomi,” katanya.
Integrasi Teknologi dan Kecerdasan Buatan
Selain perubahan paradigma dan mindset, Wamendiktisaintek mendorong perguruan tinggi mengadopsi teknologi terbaru, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk mempercepat transformasi pendidikan tinggi. Langkah ini diyakini dapat membantu kampus menghasilkan lulusan yang adaptif dan siap bersaing di era digital.
Fokus pada Akses dan Kesetaraan Pendidikan
Selain kualitas akademik, LLDikti juga menekankan pentingnya memperluas akses pendidikan tinggi, khususnya bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Penambahan kuota beasiswa menjadi salah satu strategi untuk memastikan semua lapisan masyarakat mendapatkan kesempatan yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi.
Paradigma Baru untuk Pendidikan Tinggi Masa Depan
Wamendiktisaintek menegaskan bahwa transformasi pendidikan tinggi di Indonesia menuntut perubahan paradigma, mindset, dan integrasi seluruh elemen ekosistem akademik. Dengan langkah-langkah strategis, seperti sinergi dengan pemerintah daerah, industri, dan adopsi teknologi, perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.